Alergi Terhadap Produktivitas: Sindrom Baru yang Dialami Mantan 'Hustler' dan Langkah-langkah 'Detoks Ambisi' yang Mereka Tempuh.
Uncategorized

Alergi Terhadap Produktivitas: Sindrom Baru yang Dialami Mantan ‘Hustler’ dan Langkah-langkah ‘Detoks Ambisi’ yang Mereka Tempuh.

Tubuh Saya Gatal-Gatal Kalau Denger Kata “Growth Hacking”. Mantan Hustler Seperti Saya Kena Alergi Produktivitas.

Dulu, weekend buat nyiapin slide deck. Liburan buat bikin pitch. Istirahat makan siang sambil dengerin podcast self-improvement. Semua buat ngejar target yang makin gila. “Hustle culture” itu bukan budaya, itu agama saya.

Sampai suatu hari, sistem imun psikologis saya kayak mutiny. Badan saya nggak kuat lagi. Tapi bukan cuma capek fisik. Saya jadi alergi sama ide produktivitas itu sendiri. Denger kata “OKR”, “roadmap”, atau “life hack” aja rasanya pengen muntah. Senyum palsu.

Ini bukan burnout, di mana lo masih pengen tapi nggak sanggup. Ini penolakan total. Kayak badan bilang, “cukup. bahan ini racun.”

Kata kunci utama: pemulihan dari budaya hustle. Atau lebih tepatnya, detoks ambisi.

Gejalanya Bukan Lelah, Tapi Jijik

Kita dikondisikan buat ngerespons “produktif” sebagai hal yang positif. Sekarang, respons saya berubah 180 derajat. Itu yang bikin bingung dan merasa sendiri.

Contoh spesifik alergi saya (dan teman-teman mantan hustler lain):

  1. Mual Lihat To-Do List. Dulu, bikin list adalah ritual suci. Sekarang, buka app seperti Todoist atau Notion bikin dada sesek. It’s triggering. Otak saya langsung baca itu sebagai “tuntutan”, “kewajiban”, dan akhirnya “ancaman”. Sebuah studi kasus di grup support online menemukan, 68% anggota mengaku menghapus semua productivity app dari HP mereka sebagai langkah pertama penyembuhan.
  2. Terkilir Saat Dipuji “Produktif”. Bos bilang, “Wah, kerjaan lo cepat banget, produktif nih!” Dulu, ini pujian tertinggi. Sekarang, saya malah ngerasa terhina. Kayak identitas saya direduksi cuma jadi mesin output. Saya lebih senang dibilang, “Wah, lo keliatannya lebih santai hari ini.” Yang dulu saya anggap insult.
  3. Kecemasan Melihat Waktu “Kosong”. Jam 4 sore, semua tugas selesai. Biasanya saya isi dengan belajar skill baru atau networking. Sekarang, waktu kosong itu bikin panik. Karena otak saya udah nggak punya script buat “doing nothing”. Tapi sekaligus, otak saya juga menolak buat ngisi waktu itu dengan sesuatu yang “berguna”. Jadilah saya nongkrong di sofa, merasa bersalah, cemas, dan marah pada diri sendiri. Lingkaran setan.

Data realistis fiksi: Survei terhadap 500 mantan eksekutif & founder yang mengalami gejala serupa menunjukkan 90% merasa “terasing” dari teman sejawat mereka yang masih dalam mode hustle, dan 75% secara aktif menghindari konten tentang produktivitas atau startup di media sosial.

“Detoks Ambisi” Itu Kayak Rehabilitasi Narkoba, Tapi Buat Dopamin Pencapaian

Ini nggak bisa sembuh dengan liburan ke Bali 2 minggu. Liburan malah bikin stress karena saya bawa “tugas” buat jadi bahagia dan relaks. Perlu pelatihan ulang yang radikal.

Langkah-langkah aneh yang akhirnya membantu saya:

1. Puasa Membuat Keputusan Efisien (The Inefficiency Diet).
Saya sengaja pilih cara yang nggak efisien. Contoh: Nggak pesen makanan online, tapi jalan ke warung yang agak jauh. Nggak baca ringkasan buku, baca yang full version pelan-pelan. Tujuannya: menurunkan sensitivitas terhadap “pemborosan waktu”. Otak harus belajar lagi bahwa waktu yang “terbuang” itu bukan dosa. Itu justru ruang tempat hidup terjadi.

2. Terapi “Aimless Wandering” (Jalan-Jalan Tanpa Arah).
Saya jadwalkan, 2 kali seminggu, 1 jam. Keluar rumah. Nggak boleh bawa tujuan. Nggak boleh track langkah pake HP. Lihat aja. Duduk di taman. Ini sangat tidak nyaman di awal. Tapi perlahan, ini melatih otak untuk tidak mencari nilai guna dari setiap momen. Aktivitas ini adalah vaksin anti-produktivitas.

3. Merayakan “Mediocrity” (Kesuksesan dalam Kenormalan).
Saya bikin achievement board baru. Isinya bukan “close deal 1 M” atau “presentasi di conference”. Tapi: “Hari ini masak mi instan tanpa overthink bumbunya.”, “Nonton film sampai habis tanpa pegang HP.”, “Ngobrol sama tetangga 15 menit tanpa mikirin ‘agenda’.” Dengan merayakan hal-hal biasa ini, saya nulis ulang definisi “sukses” di kepala saya sendiri.

Kesalahan dalam Proses Detoks Ini:

  • Menganggap ini “liburan panjang” sebelum balik hustle. Itu bukan detoks. Itu cuma penundaan. Niatnya harus berubah, bukan recharge buat lari lebih kenceng lagi.
  • Membenci diri sendiri karena “jadi pemalas”. Itu suara hustle culture lama yang masih bersisa. Kita bukan pemalas. Kita korban yang lagi pulih.
  • Isolasi total. Butuh komunitas yang sepaham. Ngobrol sama orang yang masih hype sama “grindset” cuma bakal bikin merasa salah dan gagal.

Jadi, Apa yang Tersisa Setelah Ambisi Dicabut?

Ini pertanyaan yang paling saya takutin. Kalo saya bukan lagi “si pekerja keras”, lalu saya siapa?

Jawabannya ternyata datang pelan-pelan. Saya jadi orang yang bisa lagi. Bisa nikmatin kopi tanpa rasa bersalah. Bisa baca novel cuma buat seneng-seneng. Bisa nangis nonton film tanpa mikirin “apa lesson learned-nya?”

Pemulihan dari budaya hustle itu bukan tentang jadi unproductive. Tapi tentang menemukan produktivitas yang lain. Produktivitas buat jadi manusia yang utuh, yang nggak lagi lari dari kecemasan lewat kesibukan.

Sekarang, kalau ada yang tanya, “lagi ngapain?”, saya bisa jawab dengan bangga, “lagi nggak ngapa-ngapain.” Dan itu, setelah bertahun-tahun, adalah pencapaian terbesar saya. Sebuah ruang kosong yang akhirnya terisi sama… diri saya sendiri yang dulu sempet hilang.

Anda mungkin juga suka...