Gue baru aja selesai solo date. Restoran fancy. Meja untuk satu. Pesan set menu degustasi. 4 course. 1,5 jam. Cuma gue. Sendiri. Pramusaji nanya: “Menunggu teman, Pak?” Gue geleng. “Sendirian.” Dia senyum. Nggak kaget. Kayaknya sudah biasa. Gue makan pelan. Nikmati setiap suapan. Nggak buru-buru. Nggak ngobrol. Nggak pura-pura tertarik dengan cerita orang yang sebenarnya nggak gue peduli. Cuma gue, makanan, dan rasa tenang. Dulu, gue nggak bakal bisa. Dulu, gue takut. Takut dilihat sendirian. Takut dibilang kesepian. Takut dianggap nggak laku. Dulu, gue lebih milih ngapel sama orang yang nggak gue suka daripada makan sendiri di restoran. Tapi sekarang? Sekarang gue lebih sering solo dating daripada kencan biasa. Dan gue nggak sendirian. Maret 2026 ini, ada tren yang makin jelas di kalangan lajang urban usia 22-38 tahun. Mereka lebih memilih kencan dengan diri sendiri daripada mengejar relasi yang melelahkan. Bukan karena anti-cinta. Tapi karena capek. Capek jadi setengah dari pasangan sebelum punya waktu jadi utuh. Solo Dating: Ketika Kencan dengan Diri Sendiri Jadi Pilihan Utama Gue ngobrol sama tiga orang yang menjadikan solo dating sebagai gaya hidup. Cerita mereka bukan tentang kesepian. Tapi tentang keputusan sadar. 1. Maya, 28 …