(H1) Sustainable Living yang Realistis: Tidak Harus Sempurna, yang Penting Konsisten
Uncategorized

(H1) Sustainable Living yang Realistis: Tidak Harus Sempurna, yang Penting Konsisten

Kita sering liat influencer hijau yang hidup zero-waste, punya kebun sendiri, dan nggak pernah pelek plastik. Inspirasi sih iya. Tapi buat kita yang tinggal di apartemen 30 meter persegi dan kerja dari pagi sampai malem, rasanya… mustahil. Akhirnya, karena ngerasa nggak bakal bisa sempurna, ya udah, nggak usah sama sekali.

Itu pikiran yang salah. Sustainable living bukan tentang kesempurnaan. Tapi tentang konsistensi melakukan hal-hal kecil yang “cukup baik”.

Filosofi “Cukup Baik”: Bukan Alasan, Tapi Strategi

Mending bawa tas belanja sendiri 7 kali dalam sebulan tapi 3 kali lupa, daripada nggak sama sekali karena takut gagal. Itu intinya.

Contoh gampang: Lo beli kopi di cafe. Biasanya lo minta plastik tiap hari. Sekarang, lo bawa tumbler sendiri. Tapi suatu hari lo lupa. Apa yang lo lakukan?

Versi perfectionist: “Ya udah, gagal deh. Gue orang jelek. Besok-besok nggak usah bawa tumbler lagi.”
Versi realistis: “Waduh, lupa nih. Ya udah, terima aja pakai gelas kertasnya. Besok ingat lagi.”

Yang kedua itu sustainable living yang sebenernya. Bisa memaafkan diri sendiri dan lanjut konsisten.

Tritmen “Cukup Baik” yang Bisa Lo Lakuin Mulai Besok

  1. Tolak yang Gratisan, Tapi Jangan Stress Kalo Terpaksa:
    Sedotan plastik? “Nggak, terima kasih.” Kantong kresek? “Nggak usah, bisa masuk tas.” Tapi pas lo belanja bulanan dan barangnya kebanyakan buat dimasukin tas kain? Ya udah, terima aja beberapa kresek. Itu kreseknya nanti bisa lo pake buat wadah sampah organik di rumah. Masih lebih baik daripada nol effort.
  2. Beli yang Lo Butuhkan, Bukan yang Lo Bisa:
    Sustainable living itu bukan cuma soal sampah, tapi juga soal konsumsi. Mending beli satu baju bagus yang awet 2 tahun, daripada 5 baju murah yang cuma tahan 3 bulan. Tapi ya, kalo budget lagi pas-pasan, ya beli yang terjangkau aja. Jangan jadi sok suci dan malah nyiksa diri.
  3. Kurangi Sampah Makanan, Mulai dari Porsi:
    Ini impact-nya gede banget. Masak atau pesen makanan secukupnya. Kalo masak kebanyakan, besok bisa dipanasin lagi atau dibikin menu lain. Sisa nasi bisa dibikin nasi goreng. Daripada dibuang, kan mending dimakan. Gampang banget, tapi sering dilupain.

Data dari komunitas urban sustainability di Jakarta nemuin bahwa anggota yang fokus pada 2-3 kebiasaan kecil yang bisa mereka lakukan secara konsisten (seperti bawa tas belanja dan mengurangi food waste) berhasil memotong sampah rumah tangga mereka hingga 40% dalam 6 bulan. Angka yang gila untuk effort yang keliatannya sepele.

Common Mistakes yang Bikin Kita Cepat Menyerah

  • Mau Ganti Semua Sekaligus: Besok langsung pengen zero-waste, vegan, bikin kompos, naik sepeda ke kantor. Wah, burnout dong. Pilih satu atau dua hal dulu yang paling gampang. Kuasai, baru tambah lagi.
  • Terlalu Fokus pada “Gear” yang Mahal: Mikirnya harus punya stainless steel straw, beeswax wrap, dan reusable bag yang aesthetic dulu baru bisa mulai. Padahal, tumbler bekas selai atau toples bekas bumbu bisa dipake ulang. Nggak usah keluar duit dulu.
  • Membandingkan Diri dengan Ahlinya: Lo lihat tetangga yang sudah zero-waste 90%, lalu merasa usaha lo sia-sia. Don’t. Perjalanan mereka juga pasti panjang. Bandingkan diri lo dengan versi lo yang kemarin.

Tips Realistis buat Keluarga Muda yang Super Sibuk

  1. “No-Plastic Weekend”: Coba tantang diri sendiri. Di akhir pekan, usahakan untuk tidak menghasilkan sampah plastik sekali pakai. Ini latihan yang fun dan nggak terlalu menekan karena cuma 2 hari.
  2. Beli dalam Kemasan Besar: Daripada beli deterjen sachet 10 kali, mending beli satu gallon yang besar. Sampah plastiknya jauh lebih sedikit. Ini juga lebih hemat.
  3. Mulai dari Sampah yang Paling Banyak: Liat tong sampah lo. Isinya kebanyakan apa? Kalo kebanyakan kemasan snack, ya itu yang harus jadi fokus lo. Bisa cari alternatif jajan yang kurang kemasan, atau bikin snack sendiri di weekend.

Jadi, sustainable living yang realistis itu seperti nabung. Mending nabung 10 ribu setiap hari dengan konsisten, daripada nabung 1 juta sekali terus abis itu nggak pernah lagi.

Yang penting itu konsistensi, bukan besarnya aksi. Bumi butuh jutaan orang yang melakukan sustainability dengan tidak sempurna, bukan sepuluh orang yang melakukannya dengan sempurna.

Mulai dari mana? Dari hal kecil yang lo yakin bisa lo lakukan terus-terusan. Itu saja sudah lebih dari cukup.

Anda mungkin juga suka...