Kematian 'Quiet Luxury': Kenapa Tren Fashion Agustus 2026 Justru Kembali ke Estetika 'Dopamine Dressing' yang Berisik
Uncategorized

Kematian ‘Quiet Luxury’: Kenapa Tren Fashion Agustus 2026 Justru Kembali ke Estetika ‘Dopamine Dressing’ yang Berisik

Pernah nggak sih, lo liat feed Instagram orang-orang pada pake kemeja krem, blazer abu-abu, celana putih, dan semuanya… mirip? Kayak copy-paste dari satu sumber yang sama. Rumahnya juga minimalis, temboknya putih, nggak ada satu pun benda yang “berisik.”

Itulah quiet luxury. Tren yang mendominasi 2025—janji keabadian, selera tinggi, dan kemewahan yang nggak perlu teriak. Tapi kenyataannya? Jadinya cuma “cut-and-paste design”—ruangan dan outfit yang kehilangan kepribadian, cuma buat ngejar rasa aman . Setuju nggak sih?

Tapi Agustus 2026, semuanya berubah. Tren fashion balik lagi ke sesuatu yang lebih berani, lebih ekspresif, dan lebih—jujur aja—hidup. Ini namanya dopamine dressing .


Quiet Luxury: Dari Elit Jadi Membosankan

Quiet luxury menjanjikan keanggunan abadi. Warna-warna netral, tekstur berlapis, desain yang “berbisik,” bukan berteriak. Tapi entah kenapa, di antara feed Pinterest dan lantai pameran, estetika ini kehilangan tujuannya. Menurut Studio Eckström, tren ini terlalu sering menjadi “furnitur yang dirancang untuk nggak nyinggung siapa pun”—ruang yang isinya “devoid of personality” .

“Membuat orang nyaman adalah tetangga mereka punya tampilan yang sama,” kata Mark Eckström . Ironisnya, alih-alih jadi simbol selera individu, quiet luxury malah jadi semacam konsensus. Akibatnya? Banyak orang bosan dengan beige-on-beige yang itu-itu aja. Nggak ada cerita, nggak ada jiwa.

Di sisi lain, data industri fashion juga menunjukkan pergeseran. Merek-merek yang dulu identik dengan logo besar dan kemewahan “teriak” kayak Gucci sedang berjuang, sementara merek yang berhasil tetap relevan justru yang bisa menangkap nilai ekspresi dan emosi yang lebih dalam .


Dopamine Dressing: Fashion yang Bikin Happy

Dopamine dressing adalah konsep memilih pakaian yang bisa meningkatkan mood dan memicu perasaan positif . Nama ini diambil dari dopamin—hormon kebahagiaan di otak—dan idenya sederhana: pakaian bukan cuma penutup tubuh, tapi alat buat ngerasa lebih baik .

Ini bukan cuma soal warna cerah (meskipun itu bagian besarnya). Ini soal memakai apa yang bikin lo happy, percaya diri, dan ekspresif. Dari psikolog Dawnn Karen yang mempopulerkan istilah “mood enhancement dressing” di tahun 2012, sampai sekarang, konsep ini kembali naik daun sebagai counter-movement terhadap tren minimalis dan “office siren” .

Kenapa balik lagi? Salah satu alasannya: kejenuhan. Setelah bertahun-tahun larut dalam warna netral dan desain “aman,” generasi muda haus akan warna dan ekspresi diri. Di TikTok dan Instagram, konten outfit warna-warni membanjiri feed, dan hashtag #dopaminedressing dipakai jutaan orang .


Tiga Bukti Nyata: Dopamine Dressing Mengalahkan Quiet Luxury

1. Desainer Dunia: Meninggalkan Beige, Kembali ke Maksimalisme Personal

Studio Eckström, yang sering menjadi konsultan desain interior untuk orang-orang super kaya, bilang bahwa klien mereka udah mulai muak dengan “rumah yang diformulasi algoritma.” Mereka nyatakan dengan tegas bahwa kemewahan sejati selalu tentang lapisan, koleksi, dan kepribadian—buku, seni, foto keluarga, benda-benda yang mengisahkan perjalanan hidup .

Mereka bahkan menyarankan klien untuk berhenti scrolling Pinterest dan mulai pergi ke museum, galeri seni, atau sekadar keluar rumah untuk mendapatkan inspirasi warna dan tekstur . Ini tanda bahwa dorongan untuk menjadi “unik” dan “bercerita” lebih kuat daripada sekadar meniru.

2. Tren di Indonesia: Dari Wastra ke Warna Berani

Di Indonesia, dopamine dressing punya ruang sendiri. Dengan kekayaan wastra (batik, tenun, songket), anak muda mulai memadukan kain tradisional dengan gaya kontemporer yang lebih berani . Bukan cuma soal ikut tren global, tapi juga soal memperkuat identitas budaya.

Di Malang Fashion Runway 2026, tema yang diusung adalah “Fantastisca” —menggambarkan imajinasi tanpa batas, menggabungkan inspirasi dari mitologi, mimpi, dan visi masa depan . Ini jelas kontras banget sama estetika “tenang” yang monoton.

3. Merek Global: Dari Givenchy sampai Thomas Sabo Ikut Main

Dopamine dressing nggak cuma untuk Gen Z di medsos. Merek global seperti Givenchy, Balenciaga, dan Thomas Sabo mulai merilis koleksi yang mengusung warna cerah dan aksesori fun . Thomas Sabo bahkan berkolaborasi dengan SmileyWorld, sementara perhiasan mewah Anabela Chan merilis koleksi ‘Fruit Gems’ dengan batu permata warna-warni yang disintesis dari buah dan sayuran . Ini bukan sekadar tren sementara, tapi pergeseran industri.


5 Tips Dopamine Dressing Anti Gagal (Buat Lo yang Mau Coba!)

Buat lo yang pengen ninggalin quiet luxury dan nyoba gaya yang lebih hidup, ini dia tipsnya:

  1. Mulai dari yang kecil. Nggak perlu langsung ganti seluruh lemari. Coba mulai dengan aksesori: tas warna cerah, syal, atau sepatu berwarna . Rasakan bedanya.
  2. Eksplorasi warna yang bikin lo senyum. Psikologi warna bilang: kuning = optimisme, biru = tenang, merah = semangat . Tapi yang terpenting: pilih warna yang bikin lo ngerasa “ini gue banget.”
  3. Mainkan tekstur dan pola. Nggak cuma warna, tekstur juga bisa bikin mood naik. Coba bahan lembut kayak sutra, rajutan chunky, atau denim yang nyaman . Pola kayak polkadot, garis-garis, atau floral juga bikin outfit lebih hidup .
  4. Dress to impress YOURSELF. “Tujuan utamanya bukan ngejar tren, tapi memakai pakaian yang bikin lo merasa baik” . Pilih outfit yang mencerminkan kepribadian lo—bukan kepribadian yang lagi rame di TikTok.
  5. Padukan dengan elemen personal. Di Indonesia, lo bisa mix & match batik favorit atau perhiasan warisan keluarga. Dopamine dressing bukan cuma tentang warna, tapi juga kenangan dan makna .

Kesalahan Umum yang Sering Dilakuin

Satu: Anggap dopamine dressing cuma soal warna mencolok. Padahal, intinya adalah kenyamanan dan makna pribadi. Kalo lo lebih nyaman di warna pastel, itu juga bisa jadi dopamine dressing—asal bikin lo happy! .

Dua: Terlalu keras sama diri sendiri. Konsep ini tentang kebebasan, bukan tekanan. Kalo hari ini lo ngerasa pengen pake serba hitam, ya silakan. “Be kind to yourself”—ini tentang pilihan, bukan kewajiban .

Tiga: Takut berbeda. Justru beda itu yang bikin seru! Dunia fashion 2026 lagi butuh warna, butuh cerita, butuh keberanian. Jangan takut jadi “paling berisik” di ruangan.


Kesimpulan: Bye-Bye Beige, Hello Warna!

Quiet luxury boleh jadi simbol selera tinggi, tapi kalo udah bikin semua orang keliatan sama, apa bedanya? Agustus 2026 adalah momen buat lepas dari monoton dan balik ke ekspresi diri yang sebenarnya.

Dopamine dressing bukan sekadar tren. Ini tentang mengakui bahwa fashion punya kekuatan untuk mengubah mood, membangun kepercayaan diri, dan menceritakan siapa kita . Ini tentang memilih pakaian yang bikin lo merasa hidup, bukan cuma “aman.”

“Jangan takut jadi berisik. Karena terkadang, kebisinganlah yang membuat dunia terasa lebih berwarna.”

Anda mungkin juga suka...